INFO TERBARU
SMP Negeri 1 Alian Kebumen
PENGUMUMAN
Daftar Penerima Peserta Didik Baru

Puasa dan Kesehatan

Diterbitkan : - Kategori : Artikel

PUASA DAN KESEHATAN

Oleh Ahmad Khamid, S.Ag

 

Berbicara tentang hubungan antara puasa dan kesehatan, ada sebuah hadits yang cukup sering kita dengar yaitu: صُوْمُوْاتَصِحُوا (Berpuasalah kamu, maka kamu akan menjadi sehat). Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibn Sunni, dan al-Thabarani dan masih diperdebatkan kesahihannya. Bahkan dalam beberapa literatur yang setema dengan hadis di atas, ternyata hadis ini adalah hadis lemah (dha’if), ada pula yang menyatakan palsu (mawdhu’). Meski dinilai lemah, karena tidak berkaitan langsung dengan persoalan hukum, beberapa ulama masih menggunakan hadis ini sebagai dalil manfaat puasa bagi kesehatan.

Terlepaas dari apapun status hadits di atas, mengkaji manfaat puasa dari sisi kesehatan adalah hal yang tidak ada nilai negatifnya sedikitpun. Justru munculnya hadits tersebut menunjukkan bahwa para ulama terdahulu pun sudah menaruh perhatian yang sangat serius tentang manfaat kesehatan badan dari ibadah puasa.

Puasa yang disyariatkan dalam Islam dijalankan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Dari sisi waktu puasa dilaksanakan sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari (dari subuh sampai dengan maghrib). Dan Rasulullah memerintahkan untuk segera membatalkan puasa (berbuka) jika waktu puasa sudah berakhir. Hal ini menunjkkan bahwa puasa tidak boleh dilakukan dengan berlebih-lebihan. Sama halnya dalam hal makan dan minum, Allah SWT juga melarang keras umat manusia makan dan minum secara berlebihan (QS. Al A’raf: 31).

Sebuah buku berjudul “Hikmah Puasa Perspektif Hadis dan Medis” yang ditulis oleh dr. Agus Rahmadi bekerjasama dengan tim kajian hadis el-Bukhari Insitute kiranya dapat dijadikan argumen dari sisi medis tentang manfaat puasa dari sisi kesehatan. Dari rangkuman buku tersebut setidaknya ada empat manfaat kesehatan dari ibadah puasa yaitu:

  1. Memperpanjang Umur

Kesimpulan ini didapatkan dari penelitian Vladimir Nikitin yang mengamati kalau kebanyakan orang Indonesia tetap berbadan gemuk meski berpuasa. Untuk membuktikannya, ia mencoba mempraktikannya lewat tikus yang dikelompokkan menjadi empat model, ada yang tidak diberi makan sama sekali, dipuasakan setiap senin dan kamis, puasa Daud (sehari puasa sehari tidak), dan terakhir diberi makan setiap hari. Hasilnya adalah, yang dipuasakan umurnya dapat mencapai empat tahun, sementara yang tidak makan sama sekali mati terlebih dahulu, kemudian yang diberikan makan setiap hari.

Penjelasannya adalah, ini disebabkan karena didalam tubuh terdapat bagian sel yang disebut mitokondria. Salah satu bagian dari unsur terkecil dalam tubuh, yaitu sel ini berfungsi sebagai alat pembakar dan pemroduksi energi. Melalui mitokondria, dihasilkanlah ATP (energi) dan O2 (radikal bebas) yang diperoleh dari pembakaran glukosa dan oksigen. Pembakaran itu terjadi disaat tubuh menerima asupan makanan.

Disaat yang sama, tubuh memiliki superoxide dismutase, hydrogen peroksidae, dan catalasae yang berfungsi mengubah radikal bebas menjadi oksigen dan air. Jika kita makan terlalu banyak, enzim tersebut tidak mampu mengubah seluruh radikal bebas yang berada di dalam tubuh. Yang jika dibiarkan, akan merusak sel normal, bahkan berdampak kepada kanker. Dengan berpuasa, enzim memiliki waktu untuk menghilangkan radikal bebas yang masih belum terolah dalam tubuh.

  1. Menambah Kesuburan dan Memperkuat Tubuh

Kesimpulan ini diperoleh lewat uji coba terhadap ayam petelur di Amerika Serikat. Biasanya, ayam yang sudah mencapai batas akhir fase akhir, tidak bisa bertelur lagi. Dalam kondisi ini, ayam sudah dianggap tidak produktif dan akan dijadikan ayam potong. Namun, peternak tersebut mencoba mempuasakan sekitar 864 ekor ayam yang sudah tidak produktif.

Caranya dengan membagi menjadi dua kelompok ayam, dengan kelompok pertama dipuasakan selama beberapa jam, dan kelompok kedua diberi makan seperti biasa. Setelah 10 hari, hasilnya ayam yang dipuasakan kembali bertelur.

Dari sini, puasa rupanya membuktikan dapat meningkatkan kesuburan. Bagaimana mekanismenya ? Pada saat seseorang dalam keadaan lapar, sebenarnya bukan berarti dia tidak memiliki energi sama sekali. Saat lapar, bagian yang disebut epinephrin dalam ginjal merangsang keluar cadangan gula (glukagon) agar menjadi energi aktif berupa glukosa.

Lebih lanjut ginjal kembali merangsang keluarnya hormon ACTH untuk mengeluarkan kortisol yang berfungsi meningkatkan kadar gula darah. Belum berhenti sampai disitu, hormon FSH dan LH yang berfungsi mendorong kesumbur juga didorong keluar oleh ginjal.

  1. Mencerdaskan Otak

Kesimpulan ini didasarkan pada sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat. Dr. Alan Scott, melakukan penelitian ini dengan mencoba membagi mahasiswanya menjadi dua kelompok dua hari sebelum melaksanakan ujian. Kelompok pertama disuruh berpuasa terlebih dahulu, dan yang kedua tidak.

Hasilnya, kelompok pertama mendapatkan nilai lebih tinggi dibandingkan kelompok yang kedua. Ini dapat dijelaskan karena orang yang tidak berpuasa metabolisme tubuhnya cukup tersita untuk mengolah makanan. Itu mengapa beberapa orang yang setelah makan sering merasakan kantuk. Sementara yang berpuasa lebih seimbang, sehingga lebih bisa dioptimalkan metabolisme tubuh untuk kerja otak.

  1. Menurunkan Gula Darah dan Kolesterol

Dengan tidak mengkonsumsi makanan, tubuh lebih memiliki waktu untuk mengolah energi yang sudah masuk lewat asupan makanan sebelumnya. Apalagi, tubuh sendiri memiliki cadangan energi (glukagon) yang bisa diaktifkan. Jadi seseorang yang terus menerus makan, menyebabkan tubuhnya tidak cukup mampu mengolah energi yang terdapat dari makanan. Sehingga menjadikan makanan yang masuk mengendap dan menimbulkan penyakit (radikal bebas).

Wallahu ‘Alam bis showab.

 

 

 

 

Tag : ,